|
|
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
[Edisi : Rabu, 12 Oktober 2005]
Segera Bentuk Tim Recovery
* Pemulihan Pariwisata Bali Paska Bom
|

Mencekam dan Beringas. Massa Tbenar-benar melarang pengabenan IB Agung, bahkan sempat melakukan aksi perusakan sementara aparat melakukan penjagaan ketat
|
Oleh arn
Demikian ditegaskan Kadisparda Bali, Drs. Gede Nurjaya, saat ditemui WARTA BALI Selasa (11/10) kemarin. Dikatakannya, pemulihan pariwasata langkal awal yang ditempuh adalah bekerjasama dengan semua komponen masyarakat dan kalangan industri. Selanjutnya pemerintah propinsi Bali dalam pemulihan pariwisata pasca bom Bali Kuta Square dan Jimbaran adalah melakukan promosi jangka pendek dan jangka panjang serta
Dikatakannya, untuk pemulihan pariwisata paska bom dibentuk tim pemulihan pariwisata yang akan dibentuk dalam waktu dekat ini memiliki tugas dan mempersiapkan program programnya dalam pemulihan pariwasata Bali. Tugas tim recovery yang dirancang meliputi melakukan pemasaran dalam jangka pendek seperti halnya promosi pariwisata.
Sedangkan program jangka panjangnya dalah melanjutkan program tersebut sekaligus menyampikan informasi pada dunia international. “Bali tetap tujuan pariwisata dan Bali tetap layak untuk dikunjungi baik wisman maupun wisdom,” katanya sembari menambahan pemberian informasi yang positif pada setiap wisatawan.
Sementara itu, dari hasil pendataan yang dilakukan Dinas Pariwisata (Disparda) Propinsi Bali (9/10) lalu, Nurjaya menjelaskan, beberapa hotel melaporkan ada pembatalan kunjungan antara lain dikawasan Kuta mencapai 1.747 kamar dan kawasan Gianyar 482 kamar.
Paska tragedi bom Kuta Square dan Jimbaran kedatangan dan keberangkatan wisatawan sangat fluktuatif, naik dan turunnya rata rata 5-9 persen. Sebelum bom Bali 1 Oktober lalu, data kunjungan wisman mencapai 5.399 orang. Penurunan paling drastis terjadi dua hari setelah peledakan mencapai 24 % dari 5.399 wisatawan menjadi 3.364 wisatawan.
Dari data yang ditemui di lapangan, keberangkatan wisatawan sebelum jadwal waktunya merupakan dampak dari ledakan bom. Meski demikian keberangkatan wisatawan setelah bom Bali 1 Oktober hanya 9 % dari jumlah kunjungan. “Bila dibandingkan dengan Oktober 2004 tidak terjadi perubahan angka yang terlalu signifikan baik kedatangan maupun keberangkatan pada Oktober 2005 ini. Hal itu dikarenakan, di samping ledakan bom bulan Oktober ini adalah low seasion,” ujar Nurjaya meyakinkan.
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
|