|
|
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
[Edisi : Rabu, 12 Oktober 2005]
Dibayangi Ancaman Boikot
* Pariwisata Bali Paska Bom Bali 2
|
Oleh
Dugaan dan rasa cemas yang muncul terutama dari kalangan pelaku bisnis pariwisata di Bali akhirnya menjadi kenyataan, menyusul pernyataan keras yang disampaikan Presiden Japan Association or Travel Agents (JATA) Kentaro Keneko.
Pernyataan itu disampaikan Kentaro dalam kunjungannya ke sejumlah pejabat di Bali, termasuk Gubernur Bali Dewa Made Beratha dan Kapolda Bali, Irjen Polisi Made Mangku Pastika serta Bupati Badung Anak Agung Gde Agung, baru-baru ini.
Menurutnya, wisatawan Jepang mengancam akan memboikot Bali jika tidak ada pembenahan dan jaminan keamanan dari Pemerintah Propinsi Bali pasca tragedi kemanusiaan -ledakan bom- yang terjadi pada Sabtu (1/10) malam lalu di Jimbaran dan Kuta yang merenggut nyawa 23 orang tak berdosa dan lebih dari 100 korban luka-luka.
Sebaliknya, kata dia, wisatawan Jepang akan mencabut ancamannya jika ada perbaikan keamanan dan sistem keamanan di Bali. Kentaro juga berharap tidak akan ada lagi peristiwa serupa (ledakan bom susulan) di Bali. "Kami tidak berharap ledakan bom seperti di Jimbaran dan Kuta, 1 Oktober lalu, terjadi lagi pada kawasan wisata lainnya di Bali," pintanya.
"Kalau terjadi lagi ledakan bom berikutnya setelah kasus Jimbaran dan Kuta, maka wisatawan asing seperti Jepang tidak akan mau datang lagi ke Bali," ujarnya, seraya menambahkan, wisatawan Jepang sebelumnya sudah terguncang dengan kasus bom Bali I di kawasan Legian, Kuta pada Oktober 2002 yang menewaskan 202 orang, sebagian besar wisatawan asing asal Australia.
Karena itu, demikian Kentaro, pihaknya berharap jangan sampai ada ledakan bom kali yang ketiga di Bali, karena hal itu akan sangat memberikan citra negatif bagi pariwisata Indonesia, khususnya Bali di mata turis asing dan masyarakat dunia internasional.
Ia juga menjelaskan, untuk bulan Oktober, Nopember, dan Desember 2005, telah terjadi pembatalan kunjungan wisatawan Jepang ke Bali sekitar 25 hingga 40 persen, terutama dari kalangan muda yang berencana melangsungkan bulan madu di Pulau Dewata. Lebih jauh dikatakan, kunjungan turis Jepang ke luar negeri tetap dilakukan, hanya saja mereka mengalihkan liburannya dari Bali ke negara lain.
Menyikapi kenyataan tersebut, Kentaro menyarankan agar Gubernur Bali Dewa Made Beratha secepatnya melakukan promosi ke Jepang sambil menjelaskan kepada para pelaku bisnis dan komponen pariwisata di negara tersebut mengenai langkah-langkah yang akan dilakukan Pemprop Bali. Langkah ini dimaksudkan untuk mencegah penurunan kunjungan wisatawan mancanegara terutama Jepang ke Bali.
Segera ke Jepang
Bagi Pemprop Bali khususnya komponen pariwisata Pulau Dewata, tentu saja pernyataan Kentaro itu tidak bisa dianggap sebagai "gertak sambal" atau dipandang sebelah mata. Pasalnya, Jepang saat ini menjadi negara pemasok wisatawan urutan pertama terbesar ke Bali.
Data kunjungan wisatawan asal negeri Sakura ke Bali hingga medio Mei 2005 yang mencapai 189.507 orang, disusul tempat kedua Australia sebanyak 160.124 orang dan Taiwan dengan 76.956 wisatawan. Dewa Made Beratha didampingi pejabat instansi terkait dalam waktu dekat direncanakan berangkat ke Jepang untuk bertemu dengan pelaku bisnis dan komponen pariwisata di negara tersebut.
Keberangkatan orang nomor satu di Bali itu ke Jepang untuk menjelaskan secara langsung kepada komponen pariwisata di negeri Sakura tersebut mengenai situasi keamanan pasca peledakan bom di kawasan wisata Kuta dan Jimbaran, 1 Oktober lalu.
Menurut Gubernur Beratha seperti dikutif Kepala Biro Humas dan Protokol Pemerintah Propinsi Bali AA Bagus Gede Netera di Denpasar, Minggu, kendati telah terjadi tragedi kemanusiaan di tiga titik pada dua lokasi di Bali, bukan berarti Bali secara keseluruhan tercerai-berai.
Pemprop Bali bersama jajaran Polri dan seluruh masyarakat Bali akan mengintesifkan pengamanan, sehingga situasi keamanan Bali akan terjaga dengan baik. "Kami bersama Polri dan seluruh komponen masyarakat Bali akan berupaya meningkatkan pengamanan terutama di obyek-obyek wisata yang padat dikunjungi wisatawan," tandasnya, seperti dikutip kapanlagi.com.
Pada bagian lain, Gubernur Beratha menyatakan upaya pemulihan dunia kepariwisataan Bali akan relatif lebih cepat dibandingkan ketika terjadi peristiwa ledakan bom di kawasan wisata Legian, Kuta, 12 Oktober 2002.
Hal tersebut didasarkan pada tingkat hunian kamar hotel di kawasan wisata Nusa Dua, Kuta dan Sanur sekarang ini yang masih mencapai 60 persen. Sementara pasca ledakan bom Bali 12 Oktober 2002, tingkat hunian kamar hotel di Bali sempat mencapai nol persen.
Sementara itu, kepada tamunya (Kentaro), Bupati Badung Anak Agung Gde Agung menjelaskan, pihaknya telah berkoordinasi dengan kepala desa/lurah dan camat se-Kabupaten Badung untuk membentuk sistem keamanan semesta.
Sistem keamanan ini dilakukan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat, termasuk petugas keamanan desa adat (pecalang) dan hansip yang ada di masing-masing desa/kelurahan.
Sistem keamanan semesta, kata tokoh dari Puri Mengwi ini, bertujuan meningkatkan kepekaan dan kepedulian masyarakat terhadap keamanan di lingkungannya masing-masing. Untuk hal ini, pihaknya akan berkoordinasi dengan kepolisian untuk memberikan pelatihan.
Selain memberlakukan sistem keamanan semesta, Bupati Badung juga menyatakan akan melakukan penertiban administrasi kependudukan secara ketat di seluruh kecamatan di Badung, terutama pada penduduk pendatang (luar daerah).
Sebelumnya Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik juga menyampaikan hal senada. Menteri asal Buleleng, Bali ini bahkan optimis bahwa dampak dari peristiwa bom Jimbaran dan Kuta bisa di-recovery lebih cepat daripada bom Bali tiga tahun lalu.
Hanya saja, imbuhnya, target untuk meraup enam juta wisatawan asing tahun ini dipastikan gagal, menyusul peristiwa ledakan bom di Kuta dan Jimbaran. Asumsi tersebut didasarkan belum adanya tanda-tanda kenaikan kunjungan wisatawan asing secara signifikan hingga medio Oktober 2005.
Dikatakannya, dampak peristiwa bom Kuta dan Jimbaran telah menurunkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara hingga 50 persen, menyusul adanya sejumlah pembatalan yang dilakukan wisatawan asing diantaranya dari Australia, Jepang dan Taiwan.
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
|