|
|
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
[Edisi : Sabtu, 15 Oktober 2005]
Tjokorda Dobrak Puri
* Ratusan Massa Duduki Pemecutan
|
Oleh arn
DENPASAR – Kehadiran Anak Agung Manik Parasara alias Ida Tjokorda Pemecutan di Puri Agung Pemecutan bertepatan dengan penampahan Kuningan, Jumat (14/10) kemarin, nampaknya belum bisa diterima sebagian keluarga puri, khususnya keluarga almarhum Anak Agung Ngurah Parana Cita—korban yang tewas di tangan Tjokorda saat terjadi perkelahian sengit di puri beberapa waktu silam.
Hal itu terbukti, pintu puri tertutup dan digembok rapat. Baik pintu gerbang maupun tiga pintu kedua di jaba tengah Puri Pemecutan dikunci rapat. Melihat pintu yang tertutup rapat, membuat para pengiring dan pengikut Ida Tjokorda kecewa dan bersitegang. Nampaknya para pengikut Tjokorde sudah tidak sabar, sehingga pintu gerbang depan yang terbuat dari besi terali berniat dihancurkan. “Bongkar saja pakai linggis ayo... bongkar,” kata salah seorang pengikut Tjokorda yang siang kemaring berjalan dari Puri Gerenceng—tempat Tjokorda selama ini tinggal setelah kasus persidangannya divonis di PN Denpasar. Sementara polisi meminta bersabar agar pintu tidak dirusak dan dibongkar paksa.
Namun, hal itu tak dihiraukan oleh para pengikut Tjokorda yang tampanya sudah mulai marah. Mereka pun ancang-ancang mendobrak kedua pintu gerbang tersebut. Sebelum didobrak, beberapa pengikutnya menabur garam di sekeliling pintu dan barulah pintu didobrak secara paksa.
Pantauan WARTA BALI, sampai di situ massa kembali tertahan lantaran kori agung dan anak pintu di sebelah kiri-kanannya juga dikunci rapat. Lagi-lagi, para pengikut Tjokorda kecewa berat dan semakin kesal melihat ulah keluarga puri yang tidak membuka pintu kori agung. Para pengikut naik tembok puri dan ingin membuka pintu dari dalam. Sementara pengikut dari luar juga tidak sabar, akhirnya semua pintu didobrak paksa, bahkan ada beberapa besi terali pintu juga patah.
Rencana Tjokorde Pemecutan kembali ke Puri Agung Pemecutan sudah pernah diwecanakan, 9 September lalu. Namun ditunda dan menunggu hari baik. Akhirnya sekitar pukul 10.15 wita, kemarin, Tjokorde baru kembali ke Puri Agung Pemecutan dengan berjalan kaki dari Puri Gerenceng Denpasar. Tjokorda diiringi tiga banjar yakni Banjar Gerenceng, Banjar Pemedilan dan Banjar Busung Yeh Denpasar. Turut mengiringi Pasemetonan Warga Agung Pemecutan dan para moncol puri. Tjokorda kembali ke puri dengan ciri khas baju hitam, saput poleng dan destar putih, berkaca mata hitam lengkap dengan bunga pucuk (kembang sepatu) diselipkan di destar.
Sebelum pertemuan digelar di balai room (balai romawi-red) sekitar pukul 11.55 wita, Ida Tjokorda dan para moncol serta beberapa pengikutnya, melakukan persembahyangan bersama di Pemerajan Agung Pemecutan. Persembahyangan diringi kidung wargasari yang menambah suasana khusuk. Sementara Poltabes Denpasar Kombes Pol. Dewa Made Parsana menunggu dibalai room dengan beberapa kerabat puri.
Usai persembahyangan, pertemuan pun digelar dipimpin Dewa Parsana. Dalam pertemuan tersebut, Parsana mengatakan, dengan telah kembali Tjokorda ke puri, komunikasi harus tetap terjalin dengan semua keluarga puri. Tidak ada lagi sentimen pribadi bahkan tidak ada lagi kejadian seperti yang pernah terjadi. Penyelesaian permasalahan dalam lingkungan puri harus dengan penuh kasih sayang agar terjadi ketenangan dan keharmonisan. “Kalau masih tetap terjadi, polisi akan menindak tegas dan mengambil yang bersangkutan sebagai warga negara,” katanya.
Sementara itu, guna menjaga suasana kondusif dan mengantisipasi kembali terjadinya pertikaian, Poltabes Denpasar tetap menempatkan satu peleton pasukannya di Puri Pemecutan. arn
Nasib Tjokorda, Tunggu Paruman Agung
DENPASAR – Pertemuan yang disaksikan tiga banjar, pengikut dan para mocol puri, Tjokorda Pemecutan mengatakan, akan berusaha melakukan pendekatan dengan pihak keluarga yang pernah diajak berseteru melalui lembaga adat dan akan berusaha dengan penuh kasih sayang, sehingga hubungan keluarga puri tetap harmonis dan tetap terjaga. “Puri Pemecutan bukan milik saya sendiri melainkan milik pasemetonan warga agung Pemecutan keseluruhan,” katanya.
Sementara pada rapat kedua yang dipimpin Penglingsir Pasemotonan Warga Ageng Pemecutan AA Rai Sudarma berjalan cukup alot. Para pengikut dan moncol Puri Pemecutan mengeluarkan berbagai pendapat. Bahkan, ada di antara mereka tidak sependapat kalau permasalahan ini ditunda-tunda terlalu lama terkait dengan tahta Tjokorde yang sejak lama ditinggal. Namun demikian ada pula pendapat yang berbeda, bahwa yang harus diutamakan adalah kekondusipan puri.
Dari perjalanan rapat, Rai Sudarma nampak bingung, bahkan setelah adanya saling dukung-mendukung pendapat dan tepuk tangan, Sudarma merasa kecewa. “Kalau perjalanan rapat seperti ini, setelah adanya usul dan pendapat yang disampaikan ada tepuk tangan segala berati saya ini direbut,” ujarnya. Kalau hal ini terus berjalan tidak akan menghasilkan keputusan,” katanya lagi.
Di tengah-tengah suasana yang tegang, Tjokorda berusaha menenangkan Rai Sudarma yang sudah mulai memerah. “Sudah.. tidak ada yang bermaksud seperti itu dan tidak ada yang merebut, silakan dilanjutkan, apa pun keputusan akan saya terima,” kata Tjokorda.
Sementara itu, beberapa moncol mengusulkan agar Tjokorda tetap menjadi raja dan tinggal di Puri Pemecutan. Namun, di sisi lain juga ada pendapat yang berbeda. Rapat pun makin mbulet dan ...............
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
|